Staff dan Manajement 3gpbokep.net Mengucapkan Selamat Hari raya Natal Dan Tahun Baru 2009.

Pembayaran

Bayar sekarang dengan BCA 
 
Donasi Dengan Bank niaga
LR
 
Untuk keterangan Lebih lanjut Bisa YM kita : wbokep
ato dengan mengklik Hubungi kami
 

Untuk Memberikan Sumbangan anda bisa melalui 2 cara diatas yaitu Liberty Reserve  atau Transfer ke Rek BCA kami.
1. Melalui Liberty Reserve

a. Jika anda mempunyai acc Liberty Reserve anda bisa langsung mengirimkan donasinya langsung ke acc kami yaitu : U3391528 (Indoprogrammer Acc)

b. Jika anda belum mempunyai acc liberty reserve anda bisa membelinya di  http://www.greatachiever.com/buylr.html dan kirimkan funds nya kepada kami , pada LR acc tulis U3391528 dan LR name tulis Indoprogrammer Acc

2.Untuk transfer melalu bank silahkan hubungi kami.

untuk rek bank niaga kami yaitu :

no rek Niaga: 0190177414121
Atas Nama  : dhani permana

Nilai transfer donasi minimal bank adalah Rp.20 ribu

3. Setelah melakukan donasi Klik Disini, Untuk konfirmasi donasi anda, tulis nama user anda yang telah terdaftar, jika belum mendaftar, daftar terlebih dahulu, serta tulis juga besar donasi anda

NB : DONASI INI DIPERLUKAN UNTUK DANA MEMPERPANJANG UMUR DARI SITUS 3GPBOKEP.NET INI, Partisipasi anda semua kami hargai sekali walaupun itu hanya $1.

 

 

 

TERIMA KASIH

MANAJEMENT 3gpbokep.net

Show Cam Bugil

Artikel

Oleh milenia
Ditulis: 30 January 2008
Cetak    Email

Sewaktu saya masih sering main ke Gajah Mada Plaza di wilayah Jakarta Pusat, ada seorang penjual majalah yang kusuka. Dulu dia berjualan di sisi kiri bagian depan gedung plaza itu. Sepintas, dia terlihat seperti orang kasar, kuat, dan tegas. Yang kusuka darinya adalah rambutnya yang sering kali cepak. Meskipun kulitnya gelap, namun bagiku dia seksi sekali. Saya sering sekali membeli majalah darinya, terutama Men's Health Indonesia.

Majalah itu merupakan majalah satu-satunya di Indonesia yang memiliki cover yang dapat membangkitkan nafsu birahi para pria homoseksual Indonesia. Saya masih ingat komentarnya ketika saya pertama kali membeli Men's Health darinya. Dia bertanya apakah saya suka fitness. Saya hanya menjawab sambil malu-malu bahwa saya hanya suka membacanya saja.

Sejak saat itu, saya menjadi pelanggan setianya, dan dia pun cukup baik dengan memberiku diskon seribu rupiah untuk tiap majalah ynag kubeli. Lumayan, buat ongkos pulang Terkadang saya betah berlama-lama dengannya. Wajahnya tampan sekali dan tubuhnya nampak kuat sekali. Sepintas dia lebih cocok menjadi kuli bangunan. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, sering kurasakan dia menatapku dengan pandangan aneh.

Pada suatu hari, seperti biasanya, tiap akhir bulan, saya mampir ke kios majalahnya untuk membeli Men's Health yang terbaru. Sudah terbayang di benakku wajah tampan dan tubuh ketat berotot yang bakal menghias sampul depan majalah kesayanganku itu. Tapi begitu sampai di sana, saya kecewa karena majalah kesayanganku itu tidak kelihatan sama sekali. Tapi abang majalah yang tampan itu mengatakan bahwa Men's Health-nya ketinggalan di rumahnya.

Dia kemudian menawarkanku untuk pergi ke rumahnya yang kebetulan dekat. Entah kenapa, saya ikut saja. Keadaan rumahnya sangat memprihatinkan, seperti rumah kardus. Tapi kelihatannya dia cukup puas dan bahagia. Andaikan semua orang puas dengan kehidupannya, kriminalitas akan berkurang drastis! Amin deh.

Balik ke ceritaku, abang itu pun sibuk mengeluarkan sekotak penuh majalah. Di bagian teratas, nampak edisi terbaru dari Men's Health yang kurindukan.

"Nih, Men's Health-nya. Sengaja gue simpan buat loe."

Tapi saat majalah itu diambil, di bawahnya ada majalah lain yang nampaknya hampir sama dengan Men's Health. Cover depannya juga seoang pria macho bertubuh kekar, tapi yang satu ini kok kontolnya tercetak jelas di balik celana dalamnya?

"Bang, majalah apa tuh?" tanyaku, penasaran.

Birahiku mulai naik. Pria macho yang berotot adalah tipeku. Saya bisa ejakulasi smapai 6x sehari hanya dnegan membayangkan dientotin rame-rame ama cowok-cowok macho. Di sampulnya kubaca 'Blue Boy'.

"Oh, ini?" tanyanya berpura-pura bodoh.
"Ini mah majalah porno luar, buat para homo."
"Homo?" tanyaku, birahiku makin bergejolak.

Susah sekali untuk menemukan majalah porno homoseksual luar di negeri yang tercinta ini. Tentu saja, rasanya ingin sekali memiliki majalah itu. Harganya berapa?" tanyaku, berusaha untuk tetap terdengar santai.

"Ceban saja," jawabnya.
"Omong-omong, situ homo juga?"

Saya serasa tersambar petir, tidak tahu harus berkata apa. Tapi entah kenapa, saya tak mencoba untuk berbohong.

"Ya, gue homo."
"Oh, pantesan situ sering beli Men's Health," katanya, cengar-cengir seperti kuda.
"Ternyata situ doyan cowok juga."

"Juga? Apa maksudnya tuh?" pikirku. Lalu aku teringat kembali saat dia menatapku dengan pandangan aneh. "Astaga. Jangan-jangan abang majalah ini homo juga kayak gue," pikirku lagi.

"Abang gak keberatan 'kan kalo gue homo?" tanyaku hati-hati, siapa tahu saya salah menebak seksualitasnya.
"Sama sekali gak. Malah Abang seneng," jawabnya, berdiri berhadap-hadapan denganku.

Mata kami saling bertatapan. Untuk sesaat, kukira jantungku akan meledak. Rasa tegang dan birahi menyiksaku sampai membuatku sesak napas. Kontolku mulai bangkit dan mendorong-dorong celana dalamku. Abang itu tersenyum melihat tonjolan di balik celana panjangku. Dia sendiri juga mempunyai tonjolan, malah jauh lebih besar seakan dia tak mengenakan celana dalam.

"Loe suka kontol?" tanyanya tiba-tiba.

Saya hanya mengangguk, seperti orang bodoh. Puas mendengar jawaban jujurku, abang majalah itu pun segera merosoti celananya. Begitu celana itu turun, kontolnya yang ngaceng langsung terlompat keluar. Astaga, dia memang tak mengenakan celana dalam.

"Ini kontol gue. Ayo, isep," perintahnya.

Bagaikan seorang budak, saya bersimpuh di depannya. Kontolnya yang tegang berdenyut-denyut di hadapanku. Panjangnya lumayan juga, 15cm. Kulihat dengan jelas, sebutir precum menyembul keluar dari lubang kontol. Ah, seksi sekali. Precum itu lalu mengalir keluar dan bergantungan pada kepala kontolnya. Seperti seorang pelacur, saya mengeluarkan lidahku dan menyambut precum itu.

Mm.. Nikmat sekali. Agak asin, tapi nikmat. Inilah cairan ternikmat yang pernah kucicipi. Sudah lama saya merindukan kontol seorang pria, akhirnya terwujud juga. Kubuka mulutku lebar-lebar dan menunggu abang majalah itu memasukkan kontolnya. Saat kontol itu masuk, saya langsung mengatupkan mulutku dan mulai menyedot. Menyedot kontol sudah tak asing lagi bagiku; saya pernah mencobanya dua kali. Jadi, saya telah memiliki sedikit pengalaman.

Dengan rakus, kujilati kontol besar itu. Warnanya hampir sama gelapnya dengan warna kulit tubuhnya. Sambil mneyedot kontol itu, kutarik-tarik bola pelernya. Abang itu melenguh-lenguh karena nikmat, tangannya memainkan kepalaku. Lama-kelamaan, dialah yang mengendalikan gerakan kepalaku. Dia memakai mulutku seperti memakai pantat cowok. Mulutku dingentotin tanpa ampun. Terkadang kontolnya terdorong begitu dalam sampai saya ingin muntah. Tapi berhasil kutahan.

"Hhohh.. Hhoohh.. Sedot terus.. Ooh yyaa.. Loe suka kontol gue 'kan? Hhohh.. Hisap terus.. Hhoohh.. Aahh.."

Abang itu semakin keras menyodomi mulutku sampai-sampai saya merasa mulutku sudah keburu kaku membentuk huruf O. Pinggangnya dihentak-hentakkan seperti orang kesurupan. Abang majalah yang semula nampak baik, kini mulai menunjukkan warna aslinya. Sikapnya mulai kasar dan nampak jelas bahwa dia hanya ingin memakai tubuhku saja.

"Hhoohh.. Hhoosshh.. Hhoohh.."

Halaman 1 dari 2 | Halaman Selanjutnya »


7830 Dilihat - Lihat komentar - komentar (0)

Gambar telanjang/bugil