PembayaranUntuk keterangan Lebih lanjut Bisa YM kita : wbokep ato dengan mengklik Hubungi kami Untuk Memberikan Sumbangan anda bisa melalui 2 cara diatas yaitu Liberty Reserve atau Transfer ke Rek BCA kami. a. Jika anda mempunyai acc Liberty Reserve anda bisa langsung mengirimkan donasinya langsung ke acc kami yaitu : U3391528 (Indoprogrammer Acc) b. Jika anda belum mempunyai acc liberty reserve anda bisa membelinya di http://www.greatachiever.com/buylr.html dan kirimkan funds nya kepada kami , pada LR acc tulis U3391528 dan LR name tulis Indoprogrammer Acc 2.Untuk transfer melalu bank silahkan hubungi kami. untuk rek bank niaga kami yaitu : no rek Niaga: 0190177414121 Nilai transfer donasi minimal bank adalah Rp.20 ribu 3. Setelah melakukan donasi Klik Disini, Untuk konfirmasi donasi anda, tulis nama user anda yang telah terdaftar, jika belum mendaftar, daftar terlebih dahulu, serta tulis juga besar donasi anda NB : DONASI INI DIPERLUKAN UNTUK DANA MEMPERPANJANG UMUR DARI SITUS 3GPBOKEP.NET INI, Partisipasi anda semua kami hargai sekali walaupun itu hanya $1.
TERIMA KASIH MANAJEMENT 3gpbokep.net Show Cam BugilArtikel
Oleh milenia Ditulis: 30 January 2008
Cetak
EmailHi, namaku Steve. Ini adalah kisahku yang kedua setelah kisah pertamaku dengan Denny. Semuanya ini aku angkat dari kisah nyataku di dunia homoseksualitas. Pengalaman pertamaku dengan Denny tentu saja itu adalah pelajaran pertamaku dan sebuah pengalaman yang tak bisa dilupakan. Tetapi kalau aku ditanya tentang pengalaman yang paling dahsyat yang pernah aku dapatkan selama berkecimpung di dunia gay ini, tentu saja pengalaman yang akan kuceritakan kali ini. Seorang drummer, sebut saja namanya Valent. Ia bukan berasal dari band kenamaan, tapi dari sebuah band kecil, yang dibentuk oleh anak-anak sekolahan. Ia seumuran denganku. Ketika aku mengenalnya, kita sama-sama duduk di bangku SMU kelas 2, cuma bedanya ia tinggal di Indonesia sedangkan aku di Melbourne. Valent berbadan bongsor dan atletis, tingginya waktu itu saja sudah sekitar 180 cm. Anaknya asyik dan funky. Tapi lucunya, kadang-kadang ia tulalit juga, itu yang membuatku sering jengkel jika ngobrol dengannya. Bahkan seringkali aku mengumpat dalam hati, "ganteng-ganteng kok tulalit!" Sebetulnya, perkenalanku dengan Valent berlangsung secara tak sengaja. Waktu itu aku sedang libur semester dan memutuskan pulang ke tanah air. Suatu sore, ketika sedang tak ada kerjaan di rumah, aku memutuskan untuk jalan-jalan mengunjungi teman-temanku semasa SMP dulu, memang ada beberapa yang sudah pindah ke luar kota termasuk Denny salah satunya, namun ada lumayan banyak juga yang masih bertahan bersekolah di kota ini. Salah satunya adalah Cindy, si Barbie imut yang juga pernah menjadi bagian dari perjalanan cinta monyetku dulu. Tapi itu masa lalu, sekarang kita hanya sebatas teman. Dan entahlah, diantara kami seolah sudah pupus rasa saling menyukai. Ia cantik, pintar dan penyayang, tapi ia bukan tipeku. Rumah Cindy lumayan jauh dari rumahku, kurang lebih 5 kilometeran. Tapi tak begitu masalah bagiku selama aku bisa membawa BMW milik papa. Kalau dulu, aku harus mencuri-curi kesempatan untuk membawa BMW itu, beda halnya dengan sekarang. Kini, aku sudah punya SIM dan papa pun sudah mulai lebih mempercayai kemampuanku menyetir mobil. Aku tinggal minta baik-baik, ambil kunci dan langsung cabut, begitu saja! Aku tak berharap banyak melihat perubahan pada diri Cindy yang tentunya sudah lebih dewasa dibandingkan ketika dulu kami satu sekolah. Mungkin saja, sekarang ia tambah cantih dan bodinya tambah aduhai, atau bagaimana? Bagiku itu tak terlalu penting. Aku cuma ingin melepas rasa kangenku kepada seseorang yang pernah menjadi begitu berarti di masa laluku, mengajaknya keluar, ngobrol dan makan malam. Bahkan tak terpikir olehku kalau-kalau Cindy sekarang sudah punya pacar sehingga akan ada yang berkeberatan jika ia jalan bersama seorang laki-laki sepertiku. Hampir jam setengah enam ketika mobilku berhenti di depan pagar bercat hijau, yang di dalamnya terdapat sebuah rumah megah berarsitektur Eropa. Tepat di depan mobilku, ada sebuah mobil coupe yang nyentrik. Rupanya ada tamu, pikirku. Dan sudah bisa kupastikan, yang pakai mobil seperti itu pastilah tamu Cindy, tak mungkin tamu papanya, apalagi tamu Mbok Iyem, PRT Cindy. Kupencet bel yang ada di balik pagar berulang kali, sampai kemudian sepasang muda-mudi keluar dari dalam rumah. Sekilas, aku pangling melihat Cindy dengan longdress yang dipakainya, ia lebih mirip tante-tante saja. "Hi, Cin!" seruku dari balik pagar seraya melambaikan tangan ke arah Cindy. Gadis itu tertegun sejenak, tak balas melambai, melainkan hanya melangkah mendekati pagar. "Siapa? Steve yah?" tanya Cindy ragu-ragu. "Iya, ini aku. Masak lupa?" sahutku sambil nyengir, memamerkan deretan gigiku yang putih bersih, yang dahulu membuat Cindy tergila-gila padaku. Cindy tersenyum, kemudian ia ngakak, tapi tetap saja aku tak dibukakan pintu. "Steve, beneran nih? Tumben ingat sama aku!" guraunya. Sementara itu, cowok tinggi berkulit putih yang bersama Cindy hanya menatap kami bergantian dengan tatapan heran. Sekilas aku melihat ke arah cowok itu, nah, sekarang aku yakin betul kalau cowok itu belum pernah aku kenal sebelumnya, tidak juga salah satu alumni SMP kami. "Lent, kenalin, ini teman SMP-ku, namanya Steve!" kata Cindy mengenalkanku pada teman cowoknya itu. Aku mengulurkan tangan,"Hallo!" sapaku ramah. "Hallo, namaku Valent!" kata cowok berambut gondrong itu dengan suara seraknya yang terdengar seksi. Setelah itu, Cindy mengajak kami berdua ke taman belakang rumahnya yang dilengkapi kolam renang berukuran besar. Sambil ditemani sepiring pisang goreng buatan Mbok Iyem yang sudah lama aku kangeni, kami bertiga mengobrol banyak, atau lebih tepatnya aku dan Cindy yang lebih banyak mengobrol. Valent hanya sesekali saja bicara, itu pun kalau ditanya, ia sepertinya pendiam, pikirku. Di tengah-tengah obrolan kami, tiba-tiba Cindy pamit ke kamar mandi. Kupikir, ini kesempatan emas untuk aku mengobrol dengan cowok ganteng dan super cute yang ada di hadapanku ini. "Tadi Cindy bilang kau juga main drum, betul begitu?" tanyaku membuka obrolan. Sambil tersenyum, Valent mengangguk sekali, "Yah, untuk menyalurkan hobby saja!" "Wah, kalau begitu bisa ajarin aku dong. Soalnya aku juga suka drum, tapi sayangnya selama ini nggak ada waktu untuk belajar, mau nggak?" kataku berbasa-basi. Lagi-lagi, Valent tersenyum. Jantungku hampir copot dibuatnya, senyumannya sungguh dahsyat dan luar biasa menawan. Tambah ganteng aja nih anak kalau tersenyum, pujiku dalam hati. "Boleh aja, tapi aku juga masih dalam tahap belajar kok! jadi belum gitu mahir juga," "Wah, kapan dong aku bisa main ke tempatmu?" kataku dengan semangat. Valent tak segera menjawab, ia berpikir sebentar. "Besok sore aku di rumah, datang aja! Ini alamat dan nomor HP-ku," kata Valent seraya menyodorkan sepucuk kartu nama kepadaku. Itulah awal perkenalanku dengan Valent, dan saat itu juga aku tahu kalau tidak hubungan yang khusus antara Valent dan Cindy, mereka hanya sebatas teman satu sekolah. Keesokan harinya, sebelum jam 3, aku sudah ada di rumah Valent. Ketika aku datang, Valent sedang berenang di pekarangan belakang rumahnya. Karena itu, aku langsung diantar menuju pekarangan belakang oleh tukang kebun yang membukakan aku pintu setelah ia tahu bahwa aku teman Valent. "Hi, Stev. Tunggu sebentar yah!" sapa Valent begitu melihatku nongol dari gang sempit di sisi kanan rumah Valent. Aku mendekatinya sampai ke bibir kolam, dan Valent pun menepi, menghampiriku. "Mau ikutan berenang?" ajaknya kemudian. "Enggak ah, aku nggak bawa pakaian ganti," kataku dengan rada menyesal. Coba tahu kalau aku akan diajak berenang, kan aku bisa bawa celana renangku dari rumah. "Oke deh kalau gitu tunggu sebentar yah, lagi nanggung nih!" kata Valent yang sesaat kemudian diikuti dengan luncuran badannya ke tengah kolam. Kulihat Valent jago berenang juga, pantas saja badannya bagus. Tak lama kemudian, Valent mentas dari kolam renangnya, ia membasuh tubuhnya yang hanya dibungkus dengan celana renang model peluru itu dengan handuk. Kemudian, ia mengajakku duduk di kursi malas yang ada di dekat situ sambil menikmati segelas jus apel yang sudah dihidangkan oleh pembantu Valent yang tadi membukakanku pintu. Kami mengobrol sebentar, tapi sebenarnya konsentrasiku terpecah saat itu, apalagi ketika berulang kali mataku terarah ke bagian yang menonjol di balik celana renang yang dikenakan Valent. Benda itu tampak besar dan kokoh. Ketika aku sedang bengong memandangi kontol Valent yang terbungkus celana renang itu, tiba-tiba Valent menyentakku dengan menepuk pahaku. "Hai, sadar dong!" katanya yang kontan membuatku kaget setengah mati. Valent tersenyum, entahlah sepertinya ia mencium gelagat yang tidak beres dan dapat membaca apa yang kupikirkan saat itu, semuanya itu bisa aku lihat dari tatapan matanya yang tiba-tiba berubah terhadapku dan senyumnya yang tampak sedikit sinis. "Ayo, ikut aku ke studio pribadiku!" ajak Valent seraya berlalu masuk ke dalam rumah. Ia mengajakku ke sebuah kamar yang disebutnya sebagai studio, di dalamnya paling tidak aku lihat ada seperangkat drum yang pastinya sangat mahal, seperangkat keyboard, gitar bass, serta sound system. Barang-barang di situ terlalu mewah untuk sebuah studio pribadi, pikirku. Beberapa saat aku menunggu di dalam ruangan itu, sementara menunggu Valent mandi dan berganti pakaian. 2826 Dilihat - Lihat komentar - komentar (0) Gambar telanjang/bugil |




